Why I’m still alone?
Wednesday April 18th 2007, 9:03 pm
Filed under: Uncategorized

Ini pertanyaan yang biasanya terlontar manakala orang tua, atau bahkan tetangga, teman-teman, dan orang-orang di sekitar kita melihat kondisi kita. Secara usia, sudah cukup matang. Secara materi, semuanya sudah mapan. Lalu apalagi yang ditunggu? Kenapa tidak segera menikah saja? Begitulah yang sering terlontar di benak mereka. Bagi kaum pria, pertanyaan ini mungkin tak terlalu memusingkan. Tapi bagi perempuan, pertanyaan semacam ini tergolong cukup sensitif. Apalagi jika sebagai perempuan, untuk jangka waktu yang cukup lama kita belum juga memiliki pacar. Melihat teman-teman yang sudah menikah dan punya anak, ditambah desakan dari orang-orang di sekitar kita, rasanya setiap pertanyaan itu terlontar membuat hati kita seolah teriris. Terkadang kita merasa bosan dengan rongrongan pertanyaan yang itu-itu saja. Saking sebalnya, dalam hati kita kerap kali berharap bahwa lebih baik mereka tutup mulut saja dan tak usah bertanya macam-macam.

Being single bukanlah suatu penyakit yang harus disembuhkan dan butuh pengobatan. Kesendirian juga bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi satu hal yang harus kita sadari bahwa Allah mempunyai rencana yang terindah dalam hidup kita. Ia telah memulai pekerjaan yang baik dalam hidup kita, dan Ia juga yang akan meneruskan dan menyelesaikannya dengan sempurna (lihat Filipi 1:6). Pada saat yang tepat nanti, Allah akan menunjukkan seseorang yang tepat untuk kita, dan kita tidak akan sendiri lagi. Ya, sekarang kita memang single, tetapi kita tidaklah terganggu dengan hal itu.

Kenali diri sendiri

Ini adalah salah satu hal yang harus kita tahu. Kita harus bisa mengenal dengan baik siapa diri kita, bagaimana sifat dan karakter kita, potensi diri kita, kehidupan sosial kita. Dari sinilah kita bisa mengevaluasi diri. Dari sini pula kita bisa mengetahui segala kelebihan dan kekurangan diri kita, yang mungkin saja bisa menjadi salah satu penyebab mengapa kita masih sendiri (di luar kemungkinan bahwa memang belum waktunya Tuhan). Kalau kita bisa mengenali diri sendiri dengan baik, akan lebih mudah bagi kita untuk memperbaiki sisi negatif yang ada pada diri kita, dan lebih mengembangkan sisi positif yang kita miliki.

Sendiri bukan berarti kesepian

Kita mungkin tidak mempunya sahabat karib yang bisa kita percaya, bisa diajak bicara, dan bisa diajak bersosialisasi. Kalau memang kenyataannya demikian, belajarlah untuk menjadi sahabat karib bagi seseorang. Undang orang lain agar bisa bersosialisasi dengan kita, dan jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Libatkan diri dalam berbagai kegiatan seperti pelayanan di gereja ataupun kegiatan sosial lainnya, mengembangkan hobi kita, dan lain sebagainya. Pendek kata, belajarlah untuk menikmati hidup yang sudah Allah anugerahkan, meski saat ini kita sendiri.

Cara yang paling mudah bagi iblis untuk menghancurkan kita dengan kondisi kesendirian kita itu adalah dengan membuat kita merasa sungguh-sungguh sendirian dan tak seorangpun yang perduli, sehingga membuat kita menutup diri, merasa tertekan dan putus asa. Itu sebabnya, nantikanlah Tuhan dan percayalah kepada-Nya. Jangan pernah berhenti untuk berdoa serta berharap kepada-Nya.

Raihlah kesempatan itu

“Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan.” (Ratapan 3:25-26). Mungkin kita tidak merasa bahagia dengan kesendirian kita. Tetapi inilah kuncinya, yaitu belajar menanti dengan sabar.

Sebagai seorang yang single, kita dapat menjadi seorang single di dalam Kristus yang memperkuat diri kita. Ijinkan Allah untuk menunjukkan rancangan-Nya yang sempurna bagi kehidupan kita. Belajar untuk terbuka akan waktu Tuhan. Carilah wajah-Nya. Kejarlah hati-Nya. Sungguh, hanya cinta kasih Allah saja yang mampu mengisi kekosongan di dalam hidup kita. Jika kita merasa sengsara karena sendirian, mungkin akan lebih sengsara lagi kalau kita bersama-sama dengan seseorang (apalagi bersama seseorang yang tidak tepat). Tidak ada seorang pun yang bisa membuat hidup kita menjadi lengkap. Hanya Tuhan saja yang dapat melengkapi hidup kita.

Lalu, mengapa saat ini kita masih sendiri? Karena “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1). Saat ini mungkin waktunya kita menjadi perempuan single. Tetapi mungkin tidak untuk selamanya kita berada dalam kondisi demikian. Saat ini justru adalah saat dimana kita bisa mengenal Allah lebih dekat lagi, untuk menikmati kebebasan kita sebagai seorang single, dan untuk mempersiapkan diri memasuki gerbang pernikahan kelak. Jangan sia-siakan kesempatan itu. Ya, sekarang kita memang belum menikah. Itu tidak apa-apa dan tak jadi masalah. Yang penting saat ini kita adalah seseorang yang berguna bagi semua orang, dan itu adalah cukup.