“memberi & menerima”
Ini adalah prinsip dasar penciptaan laki-laki dan perempuan. Laki-laki dirancang untuk memberi dan perempuan dirancang untuk menerima. Banyak hubungan gagal karena laki-laki tidak sadar mereka harus menjadi pemberi dan bukan penerima sejauh berkaitan dengan perempuan dan karena perempuan tidak sadar mereka harus menjadi penerima dan bukan pemberi sejauh berkaitan dengan laki-laki.
Berikut ini adalah beberapa prinsip penting untuk diingat sehubungan dengan memberi dan menerima di antara laki-laki dan perempuan:
- Ketika laki-laki menuntut, perempuan bereaksi; ia tidak berespons.
- Ketika laki-laki memberi, perempuan berespons.
- Ketika laki-laki berkomitmen, perempuan tunduk. Bagi seorang perempuan, tidak ada yang lebih berharga dibandingkan seorang laki-laki yang memiliki komitmen. Bagi seorang perempuan, tidak ada yang lebih membuat depresi dibandingkan seorang laki-laki yang tidak mempunyai komitmen. Jika seorang laki-laki menghendaki seorang perempuan yang tunduk, jadilah laki-laki berkomitmen.
- Ketika laki-laki memaksa, perempuan menolak. Setiap kali seorang laki-laki memaksa seorang perempuan, perempuan itu menolak untuk berespons.
- Ketika laki-laki berbagi, perempuan peduli. Jika seorang laki-laki bersedia berbagi dengan perempuan di dalam hidupnya, maka perempuan tersebut bersedia peduli kepada laki-laki pasangannya.
- Ketika laki-laki memimpin, perempuan mengikuti. Ketika seorang laki-laki melaksanakan tanggung jawab yang Allah berikan kepadanya untuk memimpin, seorang perempuan berespons dengan mengikuti kepemimpinannya. Pemimpin tidak berarti bergaya bos, selalu menyuruh orang lain mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Pemimpin berarti berjalan di depan, bukan menempatkan orang lain di depan. Pemimpin yang baik memimpin melalui teladan, bukan perintah. Memimpin melalui teladan berarti mengerjakan sendiri hal-hal yang kita harap orang lain kerjakan.
Allah menciptakan segalanya untuk berfungsi menurut prinsip spesifik yang telah ditetapkan sebelumnya. Semua manusia diciptakan untuk hidup menurut prinsip; tanpa prinsip, hidup tidak akan lebih dari eksperimen yang tidak stabil dan tak terduga.
Lebih sering, masalah dalam hubungan berakar terutama pada fakta bahwa laki-laki dan perempuan tidak mengerti kebutuhan satu sama lain. Jadi penting untuk mengerti bagaimana kebutuhan bekerja di dalam kehidupan manusia.
Ada 5 kebutuhan dasar laki-laki dan perempuan yang menyoroti perbedaan antara kedua jenis kelamin. Kebutuhan dasar pertama seorang laki-laki adalah kepuasan seksual. Laki-laki didorong oleh kebutuhan ini. Dorongan ini diberikan oleh Allah dan begitu menonjol pada laki-laki karena ia adalah leluhur dari keluarga manusia; ia membawa benih itu. Itulah sebabnya laki-laki selalu siap untuk seks. Dorongan seks mereka tidak bersiklus.
Kebutuhan nomor satu dari seorang perempuan adalah kasih sayang. Berbeda dengan laki-laki, seoarng perempuan tidak membutuhkan seks. Ia tentu saja dapat menikmati seks apabila dengan suaminya dan disertai banyak kasih sayang. Kasih sayang berarti bahwa laki-laki secara fisik dan verbal mengekspresikan kasihnya, perhatiannya, dan dukungannya, baik dengan aktivitas fisk maupun non fisik: pelukan, ciuman, bunga, kartu ucapan, hadiah, memperlihatkan tindakan kecil sehari-hari yang penuh perhatian, dan seterusnya.
Kebutuhan paling dasar kedua dari laki-laki adalah persahabatan yang bersifat rekreasi. Seorang laki-laki memerlukan perempuan di dalam hidupnya untuk terlibat dalam rekreasinya. Jika ia suka olahraga, tontonlah pertandingan bersamanya. Jika ia suka lari pagi, ikutlah lari pagi bersamanya. Jika ia suka mendengarkan musik atau memainkan alat musik, tunjukkan minat akan musik bersamanya.
Kebutuhan terbesar kedua dari perempuan adalah untuk berkomunikasi dan bercakap-cakap. Perempuan menginginkan – ia membutuhkan – laki-laki dalam hidupnya untuk berbicara dengannya. Banyak laki-laki mengalami kesulitan dengan hal ini. Beberapa mempunyai ide yang keliru bahwa laki-laki sejati adalah tipe pendiam. Laki-laki pendiam adalah kelaparan emosi bagi seorang perempuan. Perempuan hidup dengan bercakap-cakap. Jadi, laki-laki, bicaralah dengannya. Dengarkanlah dia. Luangkan waktu untuk berbagi dengannya, bukan hanya di permukaan, tetapi pada tingkat perasaan.
Kebutuhan dasar ketiga dari seorang laki-laki dalam suatu hubungan adalah perempuan yang menarik. Ini karena laki-laki terangsang secara visual; itulah cara mereka dibangun. Menjadi “menarik” jauh melampaui pendapat subjektif yang mendasar mengenai kecantikan. Seorang perempuan yang menarik adalah orang yang mengurus dirinya sendiri dan membawa diri dengan gaya sedemikian rupa untuk menarik laki-laki pasangannya, untuk meningkatkan aspek-aspek dirinya yang memikat laki-laki pada mulanya.
Kebutuhan dasar ketiga bagi seorang perempuan adalah kejujuran dan keterbukaan. Kedua kata itu membuat banyak laki-laki sangat gugup karena mereka tidak suka berbicara terus terang. Bersikap terbuka dan jujur berarti bersedia berbagi langsung sepenuhnya yang sesuai dengan tingkat hubungan yang bersangkutan. Semakin terbuka dan jujur seorang laki-laki kepada perempuan, seorang perempuan akan semakin memercayai laki-laki tersebut dan tertarik kepadanya, karena perempuan menafsirkan keterbukaan dan kejujuran sebagai cinta.
Kebutuhan dasar keempat seorang laki-laki adalah dukungan keluarga. Seorang laki-laki memerlukan tempat berteduh, perlindungan yang aman dimana ia dapat pulang pada penghujung hari dan menemukan kedamaian serta ketenangan. Singkatnya, ia memerlukan lingkungan rumah yang mendukung. Sudah cukup kesulitan dalam “pekerjaan yang berat dan membosankan sehari-hari” tanpa pergolakan di rumah untuk ditambahkan padanya.
Kebutuhan dasar keempat bagi seorang perempuan adalah dukungan keuangan. Keutuhan ini saling terkait. Jika laki-laki memerlukan dukungan keluarga dari rumah yang nyaman, perempuan memerlukan uang untuk membantu membuatnya demikian. Ia perlu merasa aman bahwa kebutuhan keuangan keluarganya sudah diurus.
Akhirnya, laki-laki memerlukan kekaguman dan rasa hormat. Masalahnya adalah begitu banyak lak-laki, melalui cara mereka bertindak dan cara mereka memperlakukan pasangan mereka, tidak layak untuk mendapatkan rasa hormat. Laki-laki dibangun dengan kebutuhan untuk mengetahui bahwa perempuan yang mereka sayangi mengagumi dan menaruh hormat kepada mereka. Mereka juga memikul tanggung jawab untuk berperilaku dengan cara yang patut dikagumi dan dihormati.
Perempuan membutuhkan komitmen keluarga. Dengan kata lain, seorang perempuan perlu mengetahui bahwa pasangannya berkomitmen pada rumah tangga dan pernikahan mereka, bahwa pasangannya mengutamakan dirinya di atas perempuan lain. Ia perlu mengetahui bahwa pasangannya akan memberi prioritas utama kepada keluarga sewaktu mengambil keputusan mengenai komitmen akan waktunya.
Tidak peduli siapa kita, laki-laki, perempuan, menikah atau lajang, perkara terbesar yang dapat kita perbuat untuk mengasihi pasangan kita dalam hubungan apapun adalah berusaha mengerti kebutuhannya yang unik dan kemudian berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan itu. Ketika kita berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan orang lain, kita mengekspresikan cinta dalam bentuknya yang paling sejati dan murni, cinta yang memberi tanpa meminta atau berharap kembali, cinta yang mencerminkan hati Allah sendiri yang dari-Nya cinta itu berasal dan karena Ia sendiri adalah kasih.
(taken from: “ The Purpose & Power of Love & Marriage)
Vive La Difference!!
Laki-laki dan perempuan memang disiapkan secara berbeda. Mereka tidak berpikir, berbicara, atau bertindak dengan cara yang sama dalam berespons terhadap stimulus yang sama. Laki-laki dan perempuan mengirimkan, menerima, dan mengolah informasi secara berbeda. Karena memandang dunia melalui “filter” mental dan emosional yang berbeda, laki-laki dan perempuan dapat memandang hal-hal yang sama, tetapi melihat aspek yang sama sekali berbeda.
Pengertian bahwa tidak hanya laki-laki dan perempuan memang berbeda, tetapi juga bagaimana mereka berbeda sangat penting untuk meningkatkan komunikasi dan hubungan pria – wanita pada setiap tingkat. Mari kita perhatikan 15 cara spesifik laki-laki dan perempuan berbeda, yang semuanya mungkin mempunyai efek yang mendalam mengenai cara mereka berhubungan satu dengan yang lain.
1. Laki-laki adalah pemikir yang logis sementara perempuan adalah perasa yang emosional.
Menjadi logis berarti berpikir dengan cara yang masuk akal, terorganisir dan runut. Laki-laki berpikir logis. Mereka mencari fakta dan bertindak menurut fakta itu. Wanita emosional. Mereka menghampiri persoalan lebih menurut perasaan daripada nalar. Berpusat pada emosi tidaklah lebih baik atau lebih buruk ketimbang berpikir logis; ini cuma berbeda.
Cara lain untuk memandangnya adalah laki-laki memimpin dengan pikiran sementara perempuan dengan hati. Logika dan emosi mungkin kelihatannya tidak cocok, tetapi pada kenyataannya keduanya saling melengkapi dengan sangat baik. Dunia macam apakah ini apabila semua orang semata-mata berpikiran logis? Sebaliknya, emosi tanpa logika akan mengakibatkan hidup tanpa ketertiban.
2. Bagi perempuan, bahasa yang diucapkan adalah ekspresi dari apa yang ia rasakan. Bagi laki-laki, bahasa yang diucapkan adalah ekspresi dari apa yang ia pikirkan.
Perempuan mengatakan apa yang ada di hatinya sementara laki-laki apa yang ada di pikirannya. Perempuan adalah perasa yang emosional dan kata-kata yang mereka ucapkan perlu dimengerti dari kerangka rujukan itu. Laki-laki berpikir logis, dan perkataan merea sering tidak mengekspresikan secara memadai perasaan mereka yang sebenarnya. Keduanya mungkin mempunyai pikiran atau perasaan yang sama tetapi akan mengekspresikannya dengan cara yang berbeda.
3. Bahasa yang didengar oleh perempuan adalah pengalaman emosional. Bahasa yang didengar oleh laki-laki adalah penerimaan informasi.
Ketika seorang perempuan berbicara, walaupun ia mungkin mengekspresikan apa yang ia rasakan, seorang laki-laki biasanya akan mendengarkannya sebagai informasi, sering kali pada tingkat yang tidak bersifat pribadi. Ketika seorang laki-laki berbicara, bahkan apabila ia sekadar mengatakan apa yang ada di pikirannya, seorang perempuan biasanya akan menerima perkataannya pada tingkat pribadi dan emosional yang jauh lebih dalam.
Mendengar tidak sama dengan mengerti. Apa yang seseorang katakan mungkin bukan apa yang orang lain dengar.
4. Perempuan cenderung memasukkan segalanya ke dalam hati. Laki-laki cenderung melakukan sebaliknya.
Perbedaan ini langsung berkaitan dengan cara laki-laki dan perempuan “disiapkan”. Perempuan menafsirkan segalanya dari perspektif emosional sementara laki-laki mencari informasi. Karena perempuan cenderung memasukkan segalanya ke dalam hati, laki-laki perlu belajar untuk hati-hati dengan apa yang mereka katakan kepada perempuan dan bagaimana mengatakannya. Perempuan akan mengingat selama bertahun-tahun perbuatan yang menjengkelkan atau komentar yang tanpa pikir panjang.
Sebaliknya, karena laki-laki tidak memasukkan semuanya ke dalam hati, perempuan harus berhati-hati dalam cara mereka menafsirkan respons laki-laki terhadap apa yang mereka katakan. Hanya karena seorang laki-laki tidak bereaksi secara emosional dengan cara yang sama seperti seorang perempuan tidak berarti bahwa ia tidak punya perasaan atau ia tidak peduli. Laki-laki mencari informasi dan berusaha menentukan cara yang tepat untuk berespons.
5. Perempuan tertarik akan rincian – “aspek yang paling dasar”. Laki-laki tertarik akan prinsip – ringkasan atau filosofi.
Ketika seorang perempuan bertanya kepada seorang laki-laki, “Bagaimana harimu hari ini?” dan laki-laki menjawab, “Baik-baik saja.” Bukan jawaban jenis itu yang perempuan harapkan. Ia ingin mendengarkan rincian langkah demi langkah, saat demi saat dari hari laki-laki tersebut. Ia tidak sedang berusaha menyelidik; itu hanyalah cara ia berpikir. Jawaban dari laki-laki yang singkat mencerminkan bagaimana cara ia berpikir, “Hariku menyenangkan, hebat sekali.” Ia berfokus pada prinsip (harinya menyenangkan) bukan pada rincian dasar (aku melakukan ini dan itu dan begini dan begitu).
6. Dalam urusan materi, perempuan cenderung hanya melihat pada tujuan. Laki-laki ingin mengetahui rincian tentang bagaimana untuk tiba di sana.
Seorang perempuan memimpikan semua hal yang berbeda yang ia ingin miliki untuk dirinya sendiri dan keluarganya: rumah, mobil, perhiasan. Walaupun laki-laki mungkin mempunyai impian dan keinginan yang sama, ia mungkin tidak mengutarakannya sejelas itu karena, menurut cara berpikirnya yang logis dan analitis, ia berfokus pada aspek dan tantangan praktis dari impian itu. Bagaimana kita akan melakukan ini? Dari mana kita akan mendapatkan uangnya? Apakah anggaran kita akan memungkinkan untuk membeli perhiasan? Apakah kita mempunyai sarana untuk membeli mobil baru?
Perempuan menjadi jengkel dan marah karena laki-laki kelihatannya tidak berbagi impiannya dengan tingkat antusiasme yang sama dengannya. Menurut pendapat perempuan tersebut, laki-laki berlambat-lambat seolah ia tidak benar-benar peduli apakah mereka mewujudkan impian mereka atau tidak.
Sebaliknya, laki-laki menjadi frustasi menghadapinya karena perempuan tersebut kelihatan tidak mengerti realitas keuangan mereka. “Ada apa dengan perempuan ini? Apakah ia pikir uang tumbuh di pohon?” Ini bukan berarti laki-laki tidak mempunyai impian yang sama dengan perempuan tersebut; ia peduli dengan rincian praktis mengenai cara mewujudkan impian.
7. Dalam urusan rohani atau yang tidak berwujud, laki-laki melihat tujuan. Perempuan ingin tahu bagaimana untuk tiba di sana.
Secara rohani, seorang laki-laki diharapkan menjadi kepala rumah tangga, dan dengan demikian perlu tahu arah, tujuan, dan sasaran untuk pertumbuhan dan perkembangan rohani keluarganya. Perempuan tertarik pada tujuan, hal-hal spesifik, mengenai bagaimana mereka akan mencapai tujuan rohani mereka. Dalam hal ini, laki-laki berfokus pada apa dan perempuan berfokus pada bagaimana.
8. Otak laki-laki seperti lemari arsip. Otak perempuan seperti computer.
Perlihatkanlah kepada seorang laki-laki suatu masalah atau tugas yang perlu dilaksanakan, maka ia pun akan menerima informasi tersebut, menyimpannya di dalam otaknya, menutup lacinya, dan menanganinya ketika ia sempat mengerjakannya. Sementara itu, ia meneruskan hal-hal yang lain.
Seorang perempuan akan mengidentifikasikan masalah atau tugas dan seperti computer akan menanganinya sepanjang waktu, tidak mau rileks hingga persoalannya ditangani atau tugasnya selesai. Seorang perempuan harus peka terhadapa pendekatan “lemari arsip” dalam berpikir, dan memberi laki-laki tersebut ruang untuk mengerakan hal-hal yang ia katakan akan ia kerjakan.
Sebaliknya laki-laki harus peka terhadap cara kerja otak perempuan, dan berusaha merespons secepat mungkin. Ini memerlukan perhatian timbal balik dalam jumlah lumayan besar pada kedua belah pihak.
9. Rumah bagi perempuan adalah perpanjangan dari kepribadiannya. Pekerjaan bagi laki-laki adalah perpanjangan dari kepribadiannya.
Memang mudah bagi seorang perempuan untuk asyik diam di rumahnya sementara laki-laki tidak mengerti kenapa, dan bagi seorang laki-laki untuk asyik dalam pekerjaannya dan perempuan sama bingungnya.
Pekerjaan bagi seorang laki-laki adalah symbol bagi kepriaannya, nilai dirinya, dan kesanggupannya untuk memberi nafkah. Perempuan harus peka terhadap hal ini dan berhati-hati untuk tidak memarahi atau menyepelekan laki-laki berkenaan dengan pekerjaannya.
Dengan cara yang sama, rumah bagi perempuan adalah perpanjangan dari kepribadiannya. Apapun yang menyinggung rumah seorang perempuan sama dengan menyinggung dirinya, karena rumah mewakili siapa dirinya dan bagaimana ia memandang dirinya.
10. Laki-laki mudah berpindah-pindah. Perempuan memerlukan rasa aman dan menetap.
Perempuan perlu terus menerus ditenteramkan bahwa ia nyaman dan aman dalam hubungannya. Ia perlu terus diteguhkan bahwa ia adalah pribadi paling penting dalam kehidupan pasangannya. Laki-laki perlu sering dan teratur mengatakan cinta kepada pasangannya. Tidak cukup bagi seorang laki-laki untuk mengasumsikan bahwa perempuan tersebut mengetahui hal ini; seorang perempuan perlu mendengarnya. Ini bukan karena perempuan tidak percaya kepada laki-laki tersebut, tetapi memang begitulah dirinya diciptakan. Laki-laki tidak memerlukan usapan emosional yang sama seperti perempuan.
Seorang perempuan sulit mengerti bahwa ada kalanya seorang laki-laki benar-benar ingin sendirian untuk sementara waktu. Apabila seorang perempuan merasa tidak aman dalam hubungannya dengan pasangannya, ia mungkin membaca ini sebagai tanda penolakan. Itulah sebabnya laki-laki perlu peka dan hati-hati untuk menenteramkan pasangannya mengenai cintanya baik melalui perkataan maupun perbuatan. Penenteraman terus menerus menimbulkan rasa aman.
11. Perempuan cenderung rentan terhadap rasa bersalah. Laki-laki cenderung marah.
Karena basis yang berpusat pada emosi, perempuan rentan untuk menyalahkan diri sendiri dan menerima tangung jawab untuk apa saja yang berjalan keliru dalam suatu hubungan, walaupun sebenarnya bukan kesalahannya. Kadang-kadang ia bahkan akan mengulang-ulang dalam benaknya daftar alasan mengapa ia harus dipersalahkan.
Banyak perempuan berjalan setiap hari di bawah awan rasa bersalah yang sering mereka tempatkan sendiri di sana dan yang biasanya tidak pada tempatnya. Ketika masalah timbul dalam hubungan, perempuan cenderung mencela diri sendiri. “Apa yang kukatakan hingga membuatnya marah? Apa yang dapat kulakukan agar tidak bertengkar?” Sering kali, ini bukan kesalahan si perempuan sama sekali, tetapi ia tetap saja sulit menerima itu.
Laki-laki berbeda. Ketika ada yang berjalan keliru dalam suatu hubungan, ia akan memarahi pihak perempuan atau bahkan laki-lai lain sebelum ia mau mengakui tanggungjawabnya sendiri. Banyak laki-laki akan melakukan apa saja untuk menghindari perasaan bersalah. Mereka lebih suka marah-marah daripada menerima kesalahan.
Dua respons ini berlawanan dan saling memanfaatkan. Laki-laki akan menolak untuk menerima perasaan bersalahnya tetapi perempuan akan menerimanya bahkan bila ini bukan kesalahannya. Perempuan pun menjadi objek dari kemarahan laki-laki, target yang mudah bagi kejengkelan ketika laki-laki bertindak berdasarkan rasa bersalah yang ia tolak untuk tanggung. Pasangan perlu sangat waspada dan berhati-hati mengenai kecenderungan ini karena dapat merusak hubungan lebih cepat daripada apa pun yang lain.
12. Laki-laki stabil dan datar. Perempuan selalu berubah-ubah.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan ini disebabkan oleh keseimbangan tertentu pada kimia dan hormon di dalam tubuh mereka. Banyak laki-laki akan mengatakan bahwa hanya sedikit perkara yang membuat mereka jengkel ketimbang perempuan yang selalu berubah pikiran.
Sebaliknya, perempuan akan berargumen bahwa laki-laki sering tidak kelihatan khawatir – bahkan dingin atau tak berperasaan – tidak peduli apa pun yang terjadi. Ini terutama adalah perbedaan dalam perspektif.
Satu cara lain untuk memandang perbedaan ini adalah dengan mengatakan bahwa laki-laki lebih stabil atau lamban sementara perempuan lebih spontan. Stabilitas dan spontanitas – keduanya penting bagi hubungan yang sehat dan memuaskan. Stabilitas memberikan dasar yang diperlukan sementara spontanitas menyuntikkan dosis yang sehat untuk petualangan.
13. Perempuan cenderung menjadi lebih terlibat dengan mudah dan lebih cepat ketimbang laki-laki. Laki-laki cenderung menahan diri dan mengevaluasi sebelum melibatkan diri.
Karena berpusat paa emosi, perempuan lebih ahli daripada laki-laki dalam melibatkan diri dengan cepat dengan suatu urusan. Perempuan cenderung memimpin dengan hati. Mereka melihat suatu kebutuhan atau mengenali suatu alasan yang mulia atau layak menyentuh hati mereka, dan langsung ikut.
Namun, laki-laki yang digerakkan oleh logika memimpin dengan otak, dan cenderung menahan diri dan menjaga jarak, dengan hati-hatimengamati dan mengevluasi sebelum melibatkan diri. Karena berfokus pada logika, laki-laki cenderung skeptis dan harus menganalisis sesuatu dari segala arah sebelum melibatkan diri ke dalamnya. Walaupun mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk bergabung, begitu laki-laki mengambil keputusan, ia berkomitmen sama besarnya dengan perempuan.
Laki-laki dan perempuan mungkin menempuh jalan yang berbeda, tetapi akhirnya mereka tiba di tempat tujuan yang sama.
14. Laki-laki perlu diberitahu berulang-ulang. Perempuan tidak pernah lupa.
Otak laki-laki seperti lemari arsip.; apa pun yang diucapkan kepadanya ia simpan untuk diambil lagi nanti. Hanya karena ia tidak menindaklanjuti langsung tidak berarti ia sudah lupa atau mengabaikan apa yang sudah dikatakan kepadanya. Itulah sebabnya begitu sering seorang laki-laki perlu diingatkan berulang-ulang.
Otak wanita seperti computer yang tidak pernah melupakan apa pun, tetapi menyiapkannya ntuk diingat langsung begitu diminta. Perempuan tidak pernah melupakan apa pun yang mereka katakan kepada laki-laki atau apa pun yang laki-laki katakan kepada mereka, dan mereka juga memastikan supaya laki-laki tidak lupa.
Entah kualitas ini negative atau positif bergantung pada situasi. Karena cenderung menerima segalanya tanpa memasukkannya ke dalam hati, laki-laki cenderung untuk mengabaikan atau melupakan komentar yang meremehkan yang diucapkan oleh mereka atau kepada mereka. Umumnya, laki-laki tidak menyimpan dendam. Namun, pada sisi negative, “mudah lupa” ini dapat menyebabkan pria menjadi sangat tidak peka dan tidak responsive terhadap kebutuhan pasangan mereka.
Karena perempuan menerima segalanya secara emosional dan menyimpan perkataan serta perasaan lebih dekat ke hatinya, ia dengan sendirinya lebih peka dan reponsif terhadap kebutuhan yang ia lihat di sekitar dirinya. Pada sisi negatifnya, kecenderungan perempuan untuk mengingat segalanya dan memasukkan segalanya ke dalam hati dapat meyebabkan dia membiarkan sakit hati atau hinaan atau perasaan yang terluka memburuk dan berkembang berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun, menimbulkan stress, kemarahan, dan sakit hati yang terus menerus.
15. Laki-laki cenderung mengingat inti persoalan ketimbang rincian. Perempuan cenderung mengingat rincian dan kadang-kadang memutarbalikkan inti persoalan.
Laki-laki cenderung mengingat percakapan atau peristiwa secara umum, sementara permpuan mengingat rincian spesifik dengan cermat. Perempuan kadang-kadang menuduh laki-laki mengelak tentang apa yang mereka katakan akan mereka lakukan sementara sebenarnya laki-laki tidak dapat mengingat rincian percakapan bersangkutan.
Laki-laki jelas menangkap inti dari apa yang ia katakan, tetapi rinciannya kurang penting. Perempuan ingat sekali akan rinciannya, tetapi kadang-kadang tidak sejelas itu dalam mengingat inti persoalannya.
Seperti biasa, kesabaran dan pengertian pada akhirnya akan berhasil dalam meredakan ketegangan dan stress yang ditimbulkan oleh perbedaan alamiah yang membedakan laki-laki dan perempuan dan cara berpikir mereka. Keduanya harus belajar menghargai dan menghormati perbedaan vital yang Tuhan sudah bangun di dalam masing-masing jenis kelamin dari makhluk yang disebut manusia.
Laki-laki dan perempuan memang tidak sama, dan itu untuk alasan yang baik. Hidup perbedaan!!!
(taken from: The Purpose & Power of Love & Marriage)