Filed under: Religion
Kita masing-masing memerlukan petunjuk tentang apa yang harus kita perbuat, bagaimana kita berbuat, kemana harus melangkah, dan kapan harus bertindak. Kalau tidak, bisa-bisa hidup kita jadi berantakan. Coba bayangkan, bila Anda pergi ke suatu tempat yang belum pernah Anda kunjungi tanpa dibekali alamat atau peta. Mencoba berlayar di tengah lautan dengan perahu layar tanpa dilengkapi alat-alat navigasi yang baik. Mencoba merakit miniatur sebuah pesawat mainan tanpa memiliki buku petunjuknya. Bereksperimen? Mencoba suatu tantangan? Boleh-boleh saja. Tetapi saya pikir, lebih tepat bila saya katakan itu konyol!
Lalu, bagaimana cara mendapatkan petunjuk itu? Bagaimana cara mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup kita?
Jawabnya sederhana saja. Mendengarkan.
Ya, sesederhana itu. Mendengarkan! Barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar (Wahyu 13:9).
”Oke, saya tahu bahwa saya harus mendengar untuk mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup saya. Tapi, bagaimana cara mendengarkan suara Tuhan? Saya bahkan belum pernah mendengar Tuhan bersuara. Apa yang dapat meyakinkan saya bahwa itu benar-benar suara Tuhan?”
Pertanyaan yang wajar. Beberapa bulan yang lalu, saya pun bergumul untuk masalah ini. Anda bayangkan saja, mendengar suara Tuhan! Mengetahui kehendakNya! Allah yang dahsyat dan ajaib itu berbicara kepada kita? Menuntun kita? Adakah hal lain yang ingin Anda alami, lebih dari sekedar mendengar suaraNya?
Kerinduan itu membuat saya mulai membaca banyak buku tentang mendengar suara Tuhan dan mengetahui kehendak Tuhan. Ternyata dari semua buku yang itu menuntun saya menuju jawaban yang begitu sederhana. Untuk mengetahui kehendak Tuhan, syarat pertama sudah jelas. Kita harus mendengarkan. Kita masing-masing mempunyai kemampuan untuk mendengarkan suara Tuhan. Saat kita lahir baru, menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, keadaan kita dipulihkan. Kita diperdamaikan dengan Allah, dan hasil dari pendamaian itu adalah pulihnya persekutuan kita dengan Allah. Jangan berpikir bahwa kemampuan untuk mendengarkan suara Tuhan hanya dimiliki oleh hamba-hamba Tuhan yang besar! Setiap orang percaya memiliki kemampuan itu!
Mungkin cara Tuhan berbicara kepada kita berbeda. Tuhan berbicara dengan suara yang jelas kepada Samuel kecil. Tuhan yabg sama berbicara kepada Yusuf melalui mimpi. Dia berbicara kepada Maria melalui malaikat. Tuhan berbicara kepada kita melalui suara hati kita, melalui firmanNya, melalui kejadian yang kita alami dalam kehidupan kita, lewat teguran-teguran dari saudara seiman, bahkan Dia berbicara melalui alam semesta ciptaanNya. Ya, sekalipun telinga jasmani Anda tidak berfungsi dengan baik, Tuhan akan tetap berbicara melalui cara yang lain. Kita kan masih punya telinga rohani!
Tuhan berbicara dari mulai hal yang kelihatannya sederhana sampai hal-hal yang spektakuler.
Orang-orang yang memperoleh kasih karunia untuk mendengr suara Tuhan secara langsung, patut bersyukur. Memang sampai saat ini saya belum pernah mendengar suaraNya secara langsung. Tapi itu bukan berarti Dia tidak pernah berbicara kepada saya. Siapkan saja hati Anda. Sediakan waktu di hadapan Allah. Dia akan berbicara! ”Tapi itu belum benar-benar menjawab pertanyaan saya tentang bagaimana saya bisa yakin kalau itu benar-benar suara Tuhan. Bisa saja itu suara hati saya sendiri. Tetapi bagaimana kalau itu suara si jahat?”
Jawabannya lagi-lagi sederhana.
Kepekaan!
Berbicara memang mudah. Tapi bagaimana kita bisa memiliki kepekaan itu?
Kepekaan berjalan seiring dengan keintiman kita bersama dengan Tuhan. Bukankah semakin intim kita mengenal seseorang, semakin mudah pula kita mengenali suaranya? Bukankah semakin intim kita dengan seseorang, kita pun akan mengetahui lebih dalam segala sifat dang keinginannya? Semakin kita intim dengan Tuhan, kita akan semakin mengenal suara, kehendak dan kerinduanNya dalam hidup kita. Jangan berharap kepekaan terhadap suara Tuhan muncul dalam kehidupan Anda tanpa suatu keintiman denganNya!
Akan tetapi, semua petunjuk yang Tuhan berikan untuk kita tidak akan ada artinya bila tidak diikuti ketaatan. Jutaan petunjuk yang kita dengar tidak akan membawa manfaat apa-apa tanpa disertai ketaatan untuk melakukannya.
Ketaatan adalah suatu hal yang mutlak dilakukan setiap kali kita mendengar petunjuk yang diberikan Tuhan. Begitu pula dalam kehidupan kekristenan kita. Apa jadinya kalau Nuh menolak membuat bahtera? Bagaimana kalau Abraham menolak pergi dari tanah kelahirannya, Musa menolak memimpin bangsa Israel pergi dari tanah Mesir, dan bangsa Israel menolak mengelilingi tembok Yerikho? Kita dapat melihat, perkara-perkara besar teerjadi saat semua petunuk yang Tuhan berikan dilakukan dengan suatu ketaatan.
Sebaliknya, kita juga tahu apa yang terjadi ketika Adam dan Hawa melanggar perintah yang Allah berikan di Taman Eden. Apa yang terjadi pada Saul sewaktu ia berperang melawan orang filistin dan orang Amalek. Perkara besar yang mengerikan terjadi saat kita tidak taat.
Tuhan masih berbicara sampai hari ini. Masalahnya, apakah kita punya hati yang lembut dan telinga yang peka untuk mendengarkanNya? Apakah kita menyediakan waktu untuk mendengarkanNya sampai selesai? Apakah kita memiliki ketaatan untuk melakukan semua perkara yang sudah Dia nyatakan?
Jujur saya akui, pada saat menulis mengenai hal ini, saya sedang bergumul dalam suatu masalah yang cukup berat. Saya sudah mendengar suara Tuhan, tetapi saya tidak menyertainya dengan suatu ketaatan. Akhirnya apa yang saya lakukan justru membuat orang-orang di sekitar saya kecewa. Dan terutama mengecewakan Tuhan.
Intimidasi si jahat muncul saat saya mulai memerintahkan jari-jari saya bekerja di atas keyboard untuk meneruskan tulisan ini. ”Mau mengajari pembaca masalah ketaatan setelah apa yang kamu lakuakn? Yang benar saja!”
Tetapi puji Tuhan, saya akhirnya mampu menyelesaikan tulisan ini. Kalau sampai saat ini membaca tulisan ini, itu berkat kasih karunia Allah yang memampukan saya untuk mematahkan segala intimidasi si jahat.
Saya tidak menutupi kesalahan yang sudah saya perbuat dan ketidaktaatan yang saya lakukan. Tetapi saya tidak pernah mengizinkan intimidasi itu menguasai kehidupan saya sehingga persekutuan saya dengan Allah terganggu. Ya, saya pernah gagal, tapi apakah saya akan membiarkan hidup saya dihantui kegagalan? Sekarang yang penting adalah bagaimana saya bisa bangkit dan belajar dari kesalahan.
Sediakan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan dalam hidup Anda, siapkan hati Anda, lalu dengarkan sampai selesai. Selanjutnya, lakukan dengan ketaatan yang didasari kasih kepada Tuhan!
Mendengarkan suara Tuhan dalam hidup Anda adalah suatu perkara besar. Melakukannya dengan suatu ketaatan adalah perkara yang lebih besar!
Tuhan Yesus memberkati!
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>